BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Menjelang
akhir perang, tahun 1945, sebagian
wilayah Indonesia telah dikuasai oleh tentara sekutu. Satuan tentara Australia telah
mendaratkan pasukannya di Makasar dan Banjarmasin, sedangkan Balikpapan telah
diduduki oleh Australia sebelum Jepang menyatakan
menyerah kalah. Sementara Pulau Morotai dan Irian Barat
bersama-sama dikuasai oleh satuan tentara Australia dan Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur, Panglima Komando Kawasan Asia
Barat Daya (South West Pacific Area Command/SWPAC).
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang tersebut, ada beberapa hal yang harus kita ketahui terutama tentang
tugas Sekutu di Indonesia dan tanggapan bangsa Indonesia terhadap tugas
tersebut seperti :
1. Bagaimanakah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia ?
2. Apakah reaksi bangsa
Indonesia melihat kedatangan Sekutu pasca
Kemerdekaan Indonesia
tahun 1945 ?
1.3
Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
2. Untuk mengetahui dan memahami apa reaksi bangsa Indonesia melihat kedatangan Sekutu pascakemerdekaan Indonesia tahun 1945.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Perjuangan
Kemerdekaan Bangsa Indonesia
Proklamasi
kemerdekaan tidak diketahui oleh semua daerah pada waktu yang bersamaan. Hal
itu disebabkan oleh sulitnya komunikasi dan adanya penyegelan radio yang dilakukkan
oleh Jepang pada waktu sebelumnya. Namun, tokoh-tokoh di daerah segera menyatakan dukungannya. Seperti Raja
Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono IX yang mengirim telegram ucapan selamat
atas diroklamasikannya kemerdekaan kepada Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan dr
Radjiman Wediodiningrat pada tanggal 18 Agustus 1945.
Dukungan daerah pada umunya diwujudkan dengan pembentukan
pemerintahan dan KNI. Dukungan juga
dinyatakan oleh para pegawai Indonesia yang tadinya bekerja di jawatan-jawatan
Pemerintahan Pendudukan Jepang.
Masyarakat umum menyatakan dukungannya dalam bentuk rapat-rapat
raksasa. Misalnya penduduk Surabaya pada 11 September mengadakan rapat raksasa
di Tambaksari, disusul kemudian di pasar Turi pada 17 September 1945. Dalam
kedua rapat itu, tokoh-tokoh pemuda berseru agar kekuasaan segera diambil alih
dari Jepang.
Jepang telah menyerah pada
sekutu, tetapi pasukannya tetap ditempat untuk menjaga dan memelihara Status
Quo tanggung jawab diambil alih sekutu.
Untuk sementara Jepang masih memegang kendali keamanan dan ketertiban di
Indonesia, dan berupaya menghalangi setiap kegiatan-kegiatan pejuang
memproklamasikan kemerdekaan RI.
Pasca PD II muncul masalah
baru, perjanjian Postdam (Juli 1945) menyatakan antara lain Occupud Areas harus dikembalikan kepada penguasa
semula. Jika dikaitkan dengan Indonesia,
maka Indonesia harus dikembalikan dengan Belanda. Itulah sebabnya Belanda merasa berhak untuk
kembali menguasai Indonesia, selain itu dalam UUD Belanda. Indonesia masih merupakan bagian tidak
terpisahkan dari kerajaan Belanda.
Berkaitan dengan tujuan penguasaan tersebut dibentuklah Nederland Indies
Civil Adimistration (NICA).
Pada tanggal 24 Agustus
1945 antara pemerintah Inggris dan Belanda telah tercapai persetujuan, bahwa
selama pendudukan Inggris berlangsung, soal-soal pemerintah sipil akan diurus
pegawai-pegawai dari NICA dibawah tanggung jawab komando Inggris, dan secepat
mungkin kekuasaaan penuh akan dikembalikan kepada Belanda. Persetujuan antara pemerintah Inggris dengan
pemerintah Belanda tersebut dikenal dengan Cilvil Affairs Agreement yang
berlangsung di Chequers London.
Perjanjian itulah yang kemudian menjadi landasan kerjasama antara
Inggris dan Belanda dalam mewujudkan usaha Belanda untuk menjajah kembali
Indonesia.
Berdasarkan Civil Affairs
Agreement, salah satu pasalnya menyebutkan bahwa tentara Inggris yang berhak
melakukan pendaratan di Indonesia namun dalam tentara tersebut dapat
diperbantukan dalam pegawai-pagawai sipil Belanda kenyataan selama menyusupkan
orang-orang sipil. Belanda juga
memasukkan militer dalam rombongan tentara Inggris. Belanda beranggapan dapat dengan mudah
memperoleh kembali wilayah Indonesia, sehingga setelah mendengar kekalahan Jepang
atas sekutu. Belanda (NICA) yang
bermarkas di Australia berkemas untuk segera kembali ke Indonesia, akan tetapi
waktu itu mereka tidak sanggup melakukannya sendiri karena kurangnya pasukan,
sehingga Belanda bergantung kepada Inggris Komando Asia Tenggara. Lord Louis Mountbattea menetapkan bahwa
pendaratan di Kalimantan, Indonesia Timur dan Nusa Tenggara kecuali Bali dan
Lombok ditugaskan pada Australia dan sisanya mempersiapkan mereka untuk
dipulangkan ke negeri mereka, membebaskan tawanan perang sekutu dan
tawanan-tawanan lainnya. Serta menjaga
keamanan dan ketentraman sampai pemerintah Hindia Belanda memegang pemerintahan
kembali.
Pasukan yang berpangkal di
Darwin menduduki Kupang pada tanggal 11 September 1945, sedang lainnya dari
Morotai bergerak ke Selatan ke Banjarmasin pada tanggal 21 September 1945, dan
ke Makasar pada tanggal 21 September 1945.
Dalam waktu yang singkat Australia dapat menguasai pusat-pusat utama di
Kalimantan dan Indonesia Timur dengan tidak mendapatkan perlawanan yang berarti. Hal ini karena di Kalimantan dan Indonesia
Timur belum ada aksi-aksi rakyat untuk menegakkan proklamasi.
Pendaratan pasukan sekutu
di Jawa dan Sumatera jumlahnya terbatas yang baru mendarat 29 September
1945. Kekuatannya terdiri dari tiga
divisi:
1.
23 Indian Division, dibawah pimpinan Mayor Jenderal DC Howthorn (untuk
daerah Jawa Barat).
2.
5 Indian Division, dibawah
pimpinan Mayor Jenderal EC. Mansergh (untuk daerah Jawa Timur).
3.
26 Indian Division dibawah
pimpinan Mayor Jenderal HM. Chamberg (untuk daerah Sumatera)
Ketika pasukan Inggris
mendarat di Indonesia khususnya di Jawa dan Sumatera kondisinya berbeda saat
dengan Australia mendarat di Kalimantan dan Indonesia Timur. Indonesia telah
memproklamasikan kemerdekaanya, pemerintahan yang berjalan adalah pemerintah
Republik Indonesia, bukan pemerintah Jepang. Maka segala urusan yang dilakukan
oleh pasukan Inggris, mereka harus terlebih dahulu berhubungan dengan Republik
Indonesia dan bekerjasama dengan pejabat-pejabat Indonesia.
Christison menghadapi kenyataan
di pulau Sumatera dan Jawa yang berkuasa bukan lagi Belanda. Tetapi suatu pemerintahan nasional yang sudah
memproklamasikan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Kemudian pada tanggal 29 September 1945 Sir
Philip Christison memberikan keterangan melalui radio Singapura Sebagai berikut :
a.
Keterlibatan pasukan
Inggris hanya akan terbatas pada pendudukan beberapa kota penting, yaitu
Jakarta, Semarang, dan Surabaya di pulau Jawa, serta Medan dan Padang dipulau
Sumatera.
b.
Pasukan-pasukan Inggris
tidak akan mencampuri soal-soal dalam negeri.
c.
Daerah-daerah diluar yang
diduduki , menjadi tanggung jawab Jepang dan di daerah yang dikuasai Republik
Penguasa Indonesia yang bertanggung jawab.
d.
Inggris telah meminta kepada Belanda untuk memberikan keterangan politik,
tetapi ditolak Belanda. Namun begitu Inggris bermaksud mempertemukan pemimpin-pemimpin Belanda dan Indonesia dalam
suatu Konferensi Meja Bundar.
Jenderal Christison
kemudian mengeluarkan pernyataan pada tanggal 1 Oktober 1945, bahwa ia hanya
bertugas melucuti tentara Jepang dan membebaskan intemir sekutu serta menjamin
keadaan tempat-tempat yang duduki untuk melaksanakan tugasnya ia meminta
bantuan pemerintah RI. Ia merasa perlu
dalam waktu singkat diadakan perundinagan antara pemimpin-pemimpin Belanda
dengan RI pernyataan itu berbunyi.
The NRI Government will not
be expelled and will be excepted to continue civil administration Inggris the
area outside those occupted by British Forces We Intend to see the leaders of
various and shall tell them what the are coming for Indonesia intend to bring
dutch the representative and Indonesian leaders together at a roundtable
conference which the Dutch have Steadfastly refused to do hitherto.
Secara hukum pernyataan
Christison tidak dapat diartikan sebagai pengakuan secara de facto kepada Republik Indonesia yang mempunyai wewenang
atas pulau Sumatera dan pulau Jawa, meskipun pengakuan tersebut hanya untuk
tujuan praktisinya yaitu untuk memperlancar tugasnya dikedua pulau tersebut.
Pernyataan tersebut
memberikan harapan bagi bangsa Indonesia, maka pemerintah RI dengan TKR
membantu sekutu dalam melaksanakan tugasnya di Indonesia Namun kemudian rakyat
Indonesia curiga karena kedatangan Inggris di Indonesia disertai Belanda dangan
Alhed Militery Administrastin Civil Affairs Branch (AMACAB) yang menyamar
seperti serdadu Gurkha dengan merubah warna kulitnya. Pemolesan warna kulit ini diketahui antara
lain dari jasad mereka yang terlempar di sungai Berantas ketika berkobar
pertempuran Surabaya di bulan November Agar tidak diketahui para pejabat maupun
tentara Republik, orang-orang Belanda menyamar sebagai anggota sekutu dengan
menggunakan seragam sekutu dan berbahasa Inggris.
Bersama dengan tentara
Inggris inilah tentara Belanda masuk dan berusaha menduduki pusat-pusat kota di
Jawa dan Sumatera, kemudian masuk kedaerah pedalaman dengan alasan untuk
menerima penyerahan tentara Jepang.
Perlawanan dari pemuda dan rakyat setempat kemudian berkembang menjadi
pertempuran besar, seperti pertempuran di Semarang, Ambarawa, Magelang, Medan
dan Surabaya. Situasi makin bertambah buruk setelah NICA mempersenjatai kembali
KNIL yang baru lepas dari tahanan Jepang.
Diantara
pertempuran-pertempuran daerah yang terjadi di wilayah RI, pertempuran di
Surabaya merupakan pertempuran yang paling besar dalam sejarah perang
kemerdekaan yang memakan banyak korban di kedua belah pihak dan juga menewaskan
panglima sekutu Brigadir A.W.S Mallaby.
Penyebab pertempuran adalah karena tentara Inggris tidak semata-mata
melaksanakan tugas RAPWI, tetapi juga mencoba menguasai kota Surabaya dan
membiarkan berkibarnya kembali bendera Belanda.
Hal ini menimbulkan perlawanan sengit dari rakyat Indonesia meskipun
dengan persenjataan yang sederhana.
Pertempuran di Surabaya
manyadarkan Inggris bahwa perang kemerdekaan disokong oleh rakyat dan untuk
merebut semua wilayah Republik diperlukan biaya dan perlengkapan yang
besar. Selain itu Partai Buruh di London
mendorong kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah seperti halnya di India, oleh
sebab itu Inggris mendesak pemerintah Belanda berupaya soal Indonesia
diselesaikan dengan cara damai yaitu dengan jalan perundingan. Sebagai tindak lanjutnya, pada pertengahan
Oktober Inggris mengutus seorang diplomat bernama MF. Dening untuk membantu
panglima sekutu di Indonesia di bidang politik dan untuk menjelaskan sikap
Inggris kepada Indonesia bahwa Inggris tidak mengakui Republik, tetapi
menganjurkan supaya masalah Belanda diselesaikan secara damai melalui
perundingan.
Di Jakarta, Belanda semakin
meningkatkan terornya , bahkan melakukan percobaan pembunuhan terhadap Perdana
Menteri Sutan Syahrir pada tanggal 26 Desember 1945, demikian juga terhadap
Amir Syarifuddin. Dengan semakin gentingnya
situasi di Jakarta dan terancamnya jiwa para pemimpin, maka pada tanggal 4
Januari 1946 ibukota pemerintah RI untuk sementara dipindahkan dari Jakarta ke
Yogyakarta. Mengenai alasan pemindahan
tersebut diungkapkan oleh wakil penerangan Ali Sastroamidjojo SH Pemindahan ini
tidak untuk merubah pendirian pemerintah
terhadap luar negeri. Pemindahan sementara ini
beralasan:
1)
Keadaan yang tidak aman
terdapat di Jakarta.
2)
Untuk menyempurnakan
organisasi dalam negeri, bahwa kota Jakarta pada masa ini makin tidak aman buat
rakyat Indonesia umumnya dan buat pemimpin-pemimpin Negara khususnya.
Selain Presiden dan wakil
Presiden aparat-aparat pemerintah secara perlahan juga dipindahkan ke
Yogyakarta. Sebagai seorang Perdana
Menteri dan juga merangkap menteri luar negeri.
Sutan Syahrir tetap tinggal di Jakarta untuk mengadakan hubungan atau
kegiatan diplomasi untuk menghadapi Belanda. Dalam usaha
menyelesaikan masalah Indonesia dan Belanda,
pada 1 Februari 1946 seorang diplomat Inggris, Sir Archibald Clark Kerr bersama
Sir Montque Stafford tiba di Jakarta pengganti Letjen Sir Philip Christison.
Perundingan
Indonesia-Belanda dengan perantara Inggris dimulai 10 Februari 1946. Diawal perundingan Belanda yang diwakili HJ.
Van Mook menyampaikan pernyataan politik terdiri dari 6 pasal yang mengulangi
pidato Ratu Belanda tanggal 7 Desember 1942.
Isi pokoknya:
1.
Indonesia akan dijadikan
Negara persekmamuran berbentuk federasi yang memiliki pemerintahan sendiri di
dalam lingkungan kerajaan Nederland.
2.
Masalah dalam negeri diurus
oleh Indonesia, sedang urusan luar negeri diurus pemerintah Belanda.
3.
Sebelum dibentuknya
persemakmuran akan dibentuk pemerintahan peralihan selama 10 tahun.
4.
Indonesia akan dimasukkan
sebagai anggota PBB.
Pernyataan Belanda itu
menimbulkan pergolakan dalam negeri dan menimbulkan tekanan pada kabinet Sutan
Syahrir mengundurkan diri dari jabatannya sebagai perdana menteri. Tetapi tanggal 12 Maret 1946 dengan dukungan
Soekarno dan Hatta, Syahrir berhasil membentuk kabinet yang baru, kabinet kemudian menyusun usul balasan pemerintah RI, isinya antara lain :
1.
Republik Indonesia harus di
akui sebagai Negara yang berdaulat penuh atas wilayah bekas Hindia Belanda.
2.
Pinjaman-pinjaman Belanda
sebelum tanggal 8 Maret 1942 menjadi tanggungan pemerintah RI.
3.
Federasi Indonesia Belanda
akan dilaksanakan dalam masa tertentu dan mengenai urusan luar negeri dan
pertahanan diserahkan kepada suatu badan federasi yang terdiri atas orang-orang
Indonesia dan Belanda.
4.
Tentara Belanda segera
ditarik dari Indonesia dan jika perundingan tentara Republik Indonesia.
5.
Pemerintah Belanda harus
membantu pemerintah Indonesia untuk dapat diterima sebagai anggota Perserikatan
Bangsa-Bangsa.
6.
Selama perundingan
berlangsung semua aksi militer harus dihentikan dan pihak Republik akan
melakukan pengawasan terhadap pengungsian tawanan-tawanan Belanda dan inter
niran lainnya.
Perundingan kedua
dilaksanakan tanggal 14-24 April di Hooge Veluwe (Belanda). Dalam perundingan ini delegasi Indonesia
dipimpin oleh Suwardi, delegasi Belanda diketuai Schermerhorn, serta pihak
Penengah Inggris. Perundingan ini mengalami
kegagalan karena kedua belah pihak belum mencapai kata sepakat. Belanda hanya mengakui kekuasaan de facto RI
atas Jawa dan Madura, itupun masih dikurangi daerah-daerah yang telah diduduki
sekutu, sedangkan Republik Indonesia menghendaki pengakuan kekuasaan de facto
atas seluruh wilayah bekas Hindia Belanda.
Setelah Perundingan gagal
Sutan Syahrir mencoba langkah diplomasi lain yang dikenal dengan “Diplomasi
Beras”. Pada 12 April 1946 Sutan Syahrir menawarkan pengiriman 500.000 ton
beras kepada pemerintah India, untuk menolong rakyat India yang sedang
kekurangan bahan makanan. Sebagai
gantinya India akan mengirim bahan pakaian dan lain-lain keperluan rakyat
Indonesia. Diplomasi beras tersebut
mempunyai arti politis untuk memperkuat kedudukan RI terhadap pengakuan
negara-negara lain atas kedaulatan RI sama artinya dengan mempersulit Belanda
untuk kembali menjajah Indonesia.
Belanda kembali menawarkan usul
yang dikemukakan oleh Van Mook pada tanggal 2 Mei 1946 yang pada intinya untuk
membentuk suatu negara federal kepada RI.
Indonesia tetap pada pendiriannya bahwa RI menginginkan pengakuan
kemerdekaan seutuhnya. Sebelum penarikan tentara
Inggris dari Indonesia, pemerintah Inggris kembali
menyarankan untuk mengadakan penyelesaian politik masalah Indonesia-Belanda
dengan mengutus diplomat Lord Killearn untuk menjadi penengah. Sebelum perundingan dilaksanakan terlebih
dahulu diadakan persetujuan gencatan senjata yang disetujui kedua belah pihak
pada tanggal 1 Oktober 1946.
Pada saat RI mempersiapkan perundingan, setelah persetujuan
gencatan senjata, pihak Belanda justru mengirim “Divisi 7 Desember” ke
Indonesia hingga mencapai 20.000 orang selain itu Belanda juga membentuk
negara-negara baru (negara boneka). Perundingan terus berlangsung
dan dilaksanakan secara berpindah-pindah. Perundingan awal dimulai tanggal 7
Oktober 1946 dilaksanakan di Jakarta dan tanggal 10 November 1946 diteruskan di
Linggarjati, sebuah tempat di kaki gunung Cireme, 22 Km dari Cirebon. Pada tanggal 12
November 1946 oleh masing-masing ketua delegasi yaitu Sutan Syahrir dari pihak
Republik Indonesia dan Prof Schermerhorn sebagai ketua delegasi Belanda. (Yunani. 2004 : 17-24).
2.2
Reaksi Bangsa Indonesia Melihat Kedatangan
Sekutu Pasca Kemerdekaan Indonesia Tahun 1945
2.2.1
Timbulnya Perlawanan Bangsa Indonesia
Perlawanan dari pemuda dan
rakyat setempat kemudian berkembang menjadi pertempuran besar
yang dicurigai membunuh
Jendral Mallaby.
Permintaan tersebut diikuti ultimatum dari Mayor Jendral Mansergh. Isi
ultimatum tersebut yaitubahwa Sekutu memerintahkan rakyat Surabaya
menyerahkan senjatanya. Penyerahan paling lambat tanggal 9 November 1945 pukul
18.00 WIB. Apabila ultimatum tersebut tidak dilaksanakan, Kota Surabaya akan
diserang dari darat, laut, dan udara. Gubernur Suryo, diberi wewenang oleh
pemerintah pusat untuk menentukan kebijaksanaannya. Beliau bermusyawarah dengan
pimpinan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan para pemimpin perjuangan rakyat di
Surabaya. Hasil musyawarah tersebut adalah rakyat Surabaya menolak ultimatum
dan siap melawan ancaman Sekutu. Tanggal 10 November 1945 pukul 06.00, tentara
Sekutu menggempur Surabaya dari darat, laut maupun udara. Di bawah pimpinan
Gubernur Suryo dan Sutomo (Bung Tomo) rakyat Surabaya tidak mau menyerahkan
sejengkal tanah pun kepada tentara Sekutu. Dengan pekik Allahu Akbar, Bung Tomo
membakar semangat rakyat. Dalam pertempuran yang berlangsung sampai awal
Desember itu gugur beribu-ribu pejuang Indonesia. Pemerintah menetapkan tanggal
10 November sebagai Hari Pahlawan. Hari Pahlawan untuk memperingati jasa para
pahlawan. Perlawanan rakyat Surabaya mencerminkan tekad perjuangan seluruh
rakyat Indonesia.
a.
Pertempuran Lima Hari di
Semarang
Perjuangan
masyarakat Jawa tengah untuk mempertahankan kemerdekaan dimulai segera setelah
disiarkan berita tentang proklamasi kemerdekaan. Beberapa saat setelah
proklamasi. Pertempuran ini terjadi pada tanggal 15 Oktober 1945. Kurang lebih 2000 pasukan Jepang berhadapan dengan TKR dan para pemuda.
Peristiwa ini memakan banyak korban dari kedua belah pihak. Dr. Karyadi menjadi
salah satu korban sehingga namanya diabadikan menjadi nama salah satu Rumah
sakit di kota Semarang sampai sekarang. Untuk memperingati peristiwa tersebut
maka pemerintah membangun sebuah tugu yang diberi nama Tugu Muda.
b.
Pertempuran Ambarawa
Pertempuran ini diawali dengan kedatangan tentara Inggris di bawah pimpinan
Brigjen Bethel di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945 untuk membebaskan
tentara Sekutu. Setelah itu menuju Magelang, karena Sekutu diboncengi oleh NICA
dan membebaskan para tawanan Belanda secara sepihak maka terjadilah perlawanan
dari TKR dan para pemuda. Pasukan Inggris akhirnya terdesak mundur ke Ambarawa.
Dalam peristiwa tersebut Letkol Isdiman gugur sebagai kusuma bangsa. Kemudian
Kolonel Sudirman terjun langsung dalam pertempuran tersebut dan pada tanggal 15
Desember 1945 tentara Indonesia berhasil memukul mundur Sekutu sampai Semarang.
Karena jasanya maka pada tanggal 18 Desember 1945 Kolonel Sudirman diangkat
menjadi Panglima Besar TKR dan berpangkat Jendral. Sampai sekarang setiap
tanggal 15 Desember diperingati sebagai hari Infantri.
c.
Pertempuran Medan Area
Pada tanggal 9 Oktober 1945 pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda dan NICA
di bawah pimpinan Brigjen T.E.D. Kelly mendarat di Medan. Pada tanggal 13
Oktober 1945 para pemuda yang tergabung dalam TKR terlibat bentrok dengan
pasukan Belanda, sehingga hal ini menjalar ke seluruh kota Medan. Hal ini
menjadi awal perjuangan bersenjata yang dikenal dengan Pertempuran Medan Area.
d.
Bandung Lautan Api
Kota Bandung dimasuki pasukan Inggris pada bulan Oktober 1945. Sekutu
meminta hasil lucutan tentara Jepang oleh TKR diserahkan kepada Sekutu. Pada
tanggal 21 November 1945 Sekutu mengultimatum agar kota Bandung dikosongkan.
Hal ini tidak diindahkan oleh TRI dan rakyat. Perintah ultimatum tersebut
diulang tanggal 23 Maret 1946. Pemerintah RI di Jakarta memerintahkan supaya
TRI mengosongkan Bandung, tetapi pimpinan TRI di Yogyakarta mengintruksikan
supaya Bandung tidak dikosongkan. Akhirnya dengan berat hati TRI mengosongkan
kota Bandung. Sebelum keluar Bandung pada tanggal 23 Maret 1946 para pejuang RI
menyerang markas Sekutu dan membumihanguskan Bandung bagian selatan. Untuk
mengenang peristiwa tersebut Ismail Marzuki mengabadikannya dalam sebuah lagu
yaitu Hallo-hallo bandung. (www. Wikipedia. com/Tugas
Sekutu di Indonesia dan tanggapan bangsa Indonesia)
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Setelah bangsa Indonesia
memproklamasikan kemerdekaan, bukan berarti bangsa ini mampu mnjadi bangsa yang
terbebas dari peperangan. Brbagai upaya dilakukan oleh para penjajah utuk
merebut kembali bangsa ni. Namun, rakyat Indonesia tetap berjuang
memepertahankan kesatuan negara Republik Indonesia dari tangan penjajah dengan
segala kekuatan dan segala keterbatasan biaya perang. Peperangan dilakukan di
berbagai daerah di Indonesia, dukungan terhadap kemerdekaan bangsa ini begitu
besar. Semua rakyat dengan semangatnya menjaga negeri ini dari para penjajah
agar tidak dijajah kembali.
3.2 Saran
Sebagai
manusia yang mempunyai kelebihan dan kekurangan kami yakin para pembaca juga
ingin lebih mengerti tentang perang kemerdekaan bangsa Indonesia melawan para
penjajah, maka kami menyarankan para pembaca memperbanyak membaca dari
sumber-sumber yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Hajati
Chusnul, dkk: 1996. Peranan Masyarakat Jawa Tengah Dalam Perjuangan
kemerdekaan tahun 1945-1949.Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
halaman 31.
http: //www.Wikipedia. com/Tugas Sekutu di Indonesia dan tanggapan bangsa Indonesia. (diakses pada 22 Agustus 2014. Sumber
internet).
http://www.Wikipedia.org/gambar pertempuran 10 November di Surabaya dan kolonel Sudirman. (diakses
pada 22 Agustus 2014. Sumber internet).
Mawarti Djoened Poesponegoro,dkk: 1992. Sejarah
Nasional Indonesia Jilid VI. Jakarta: Balai Pustaka, halaman 165.
Yunani. 2004. Sejarah Nasional Indonesia V. Palembang : UNSRI.