Senin, 20 April 2015

Selasa, 17 Maret 2015

MAKALAH PRANG KEMERDEKAAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1            Latar Belakang
Menjelang akhir perang, tahun 1945, sebagian wilayah Indonesia telah dikuasai oleh tentara sekutu. Satuan tentara Australia telah mendaratkan pasukannya di Makasar dan Banjarmasin, sedangkan Balikpapan telah diduduki oleh Australia sebelum Jepang menyatakan menyerah kalah. Sementara Pulau Morotai dan Irian Barat bersama-sama dikuasai oleh satuan tentara Australia dan Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur, Panglima Komando Kawasan Asia Barat Daya (South West Pacific Area Command/SWPAC).
1.2            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, ada beberapa hal yang harus kita ketahui terutama tentang tugas Sekutu di Indonesia dan tanggapan bangsa Indonesia terhadap tugas tersebut seperti :
1.    Bagaimanakah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia ?
2.    Apakah reaksi bangsa Indonesia melihat kedatangan Sekutu pasca
Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 ?
1.3                                     Tujuan  
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.    Untuk mengetahui dan memahami bagaimana perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
2.    Untuk mengetahui dan memahami apa reaksi bangsa Indonesia melihat kedatangan Sekutu pascakemerdekaan Indonesia tahun 1945.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1            Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Indonesia
Proklamasi kemerdekaan tidak diketahui oleh semua daerah pada waktu yang bersamaan. Hal itu disebabkan oleh sulitnya komunikasi dan adanya penyegelan radio yang dilakukkan oleh Jepang pada waktu sebelumnya. Namun, tokoh-tokoh di daerah  segera menyatakan dukungannya. Seperti Raja Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono IX yang mengirim telegram ucapan selamat atas diroklamasikannya kemerdekaan kepada Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan dr Radjiman Wediodiningrat pada tanggal 18 Agustus 1945.
Dukungan daerah pada umunya diwujudkan dengan pembentukan pemerintahan dan KNI.  Dukungan juga dinyatakan oleh para pegawai Indonesia yang tadinya bekerja di jawatan-jawatan Pemerintahan Pendudukan Jepang.
Masyarakat umum menyatakan dukungannya dalam bentuk rapat-rapat raksasa. Misalnya penduduk Surabaya pada 11 September mengadakan rapat raksasa di Tambaksari, disusul kemudian di pasar Turi pada 17 September 1945. Dalam kedua rapat itu, tokoh-tokoh pemuda berseru agar kekuasaan segera diambil alih dari Jepang.
Jepang telah menyerah pada sekutu, tetapi pasukannya tetap ditempat untuk menjaga dan memelihara Status Quo tanggung jawab diambil alih sekutu.  Untuk sementara Jepang masih memegang kendali keamanan dan ketertiban di Indonesia, dan berupaya menghalangi setiap kegiatan-kegiatan pejuang memproklamasikan kemerdekaan RI.
Pasca PD II muncul masalah baru, perjanjian Postdam (Juli 1945) menyatakan antara lain Occupud Areas  harus dikembalikan kepada penguasa semula.  Jika dikaitkan dengan Indonesia, maka Indonesia harus dikembalikan dengan Belanda.  Itulah sebabnya Belanda merasa berhak untuk kembali menguasai Indonesia, selain itu dalam UUD Belanda.  Indonesia masih merupakan bagian tidak terpisahkan dari kerajaan Belanda.  Berkaitan dengan tujuan penguasaan tersebut dibentuklah Nederland Indies Civil Adimistration (NICA).
Pada tanggal 24 Agustus 1945 antara pemerintah Inggris dan Belanda telah tercapai persetujuan, bahwa selama pendudukan Inggris berlangsung, soal-soal pemerintah sipil akan diurus pegawai-pegawai dari NICA dibawah tanggung jawab komando Inggris, dan secepat mungkin kekuasaaan penuh akan dikembalikan kepada Belanda.  Persetujuan antara pemerintah Inggris dengan pemerintah Belanda tersebut dikenal dengan Cilvil Affairs Agreement yang berlangsung di Chequers London.  Perjanjian itulah yang kemudian menjadi landasan kerjasama antara Inggris dan Belanda dalam mewujudkan usaha Belanda untuk menjajah kembali Indonesia.
Berdasarkan Civil Affairs Agreement, salah satu pasalnya menyebutkan bahwa tentara Inggris yang berhak melakukan pendaratan di Indonesia namun dalam tentara tersebut dapat diperbantukan dalam pegawai-pagawai sipil Belanda kenyataan selama menyusupkan orang-orang sipil.  Belanda juga memasukkan militer dalam rombongan tentara Inggris.  Belanda beranggapan dapat dengan mudah memperoleh kembali wilayah Indonesia, sehingga setelah mendengar kekalahan Jepang atas sekutu.  Belanda (NICA) yang bermarkas di Australia berkemas untuk segera kembali ke Indonesia, akan tetapi waktu itu mereka tidak sanggup melakukannya sendiri karena kurangnya pasukan, sehingga Belanda bergantung kepada Inggris Komando Asia Tenggara.  Lord Louis Mountbattea menetapkan bahwa pendaratan di Kalimantan, Indonesia Timur dan Nusa Tenggara kecuali Bali dan Lombok ditugaskan pada Australia dan sisanya mempersiapkan mereka untuk dipulangkan ke negeri mereka, membebaskan tawanan perang sekutu dan tawanan-tawanan lainnya.  Serta menjaga keamanan dan ketentraman sampai pemerintah Hindia Belanda memegang pemerintahan kembali.
Pasukan yang berpangkal di Darwin menduduki Kupang pada tanggal 11 September 1945, sedang lainnya dari Morotai bergerak ke Selatan ke Banjarmasin pada tanggal 21 September 1945, dan ke Makasar pada tanggal 21 September 1945.  Dalam waktu yang singkat Australia dapat menguasai pusat-pusat utama di Kalimantan dan Indonesia Timur dengan tidak mendapatkan perlawanan yang berarti.  Hal ini karena di Kalimantan dan Indonesia Timur belum ada aksi-aksi rakyat untuk menegakkan proklamasi.
Pendaratan pasukan sekutu di Jawa dan Sumatera jumlahnya terbatas yang baru mendarat 29 September 1945.  Kekuatannya terdiri dari tiga divisi:
1.         23 Indian Division, dibawah pimpinan Mayor Jenderal DC Howthorn (untuk daerah Jawa Barat).
2.         5 Indian Division, dibawah pimpinan Mayor Jenderal EC. Mansergh (untuk daerah Jawa Timur).
3.         26 Indian Division dibawah pimpinan Mayor Jenderal HM. Chamberg (untuk daerah Sumatera)
Ketika pasukan Inggris mendarat di Indonesia khususnya di Jawa dan Sumatera kondisinya berbeda saat dengan Australia mendarat di Kalimantan dan Indonesia Timur. Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaanya, pemerintahan yang berjalan adalah pemerintah Republik Indonesia, bukan pemerintah Jepang. Maka segala urusan yang dilakukan oleh pasukan Inggris, mereka harus terlebih dahulu berhubungan dengan Republik Indonesia dan bekerjasama dengan pejabat-pejabat Indonesia. 
Christison menghadapi kenyataan di pulau Sumatera dan Jawa yang berkuasa bukan lagi Belanda.  Tetapi suatu pemerintahan nasional yang sudah memproklamasikan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.  Kemudian pada tanggal 29 September 1945 Sir Philip Christison memberikan keterangan melalui radio Singapura Sebagai berikut :
a.    Keterlibatan pasukan Inggris hanya akan terbatas pada pendudukan beberapa kota penting, yaitu Jakarta, Semarang, dan Surabaya di pulau Jawa, serta Medan dan Padang dipulau Sumatera.
b.    Pasukan-pasukan Inggris tidak akan mencampuri soal-soal dalam negeri.
c.    Daerah-daerah diluar yang diduduki , menjadi tanggung jawab Jepang dan di daerah yang dikuasai Republik Penguasa Indonesia yang bertanggung jawab.
d.   Inggris telah meminta kepada Belanda untuk memberikan keterangan politik, tetapi ditolak Belanda.  Namun begitu Inggris bermaksud mempertemukan pemimpin-pemimpin Belanda dan Indonesia dalam suatu Konferensi Meja Bundar.
Jenderal Christison kemudian mengeluarkan pernyataan pada tanggal 1 Oktober 1945, bahwa ia hanya bertugas melucuti tentara Jepang dan membebaskan intemir sekutu serta menjamin keadaan tempat-tempat yang duduki untuk melaksanakan tugasnya ia meminta bantuan pemerintah RI.  Ia merasa perlu dalam waktu singkat diadakan perundinagan antara pemimpin-pemimpin Belanda dengan RI pernyataan itu berbunyi.
The NRI Government will not be expelled and will be excepted to continue civil administration Inggris the area outside those occupted by British Forces We Intend to see the leaders of various and shall tell them what the are coming for Indonesia intend to bring dutch the representative and Indonesian leaders together at a roundtable conference which the Dutch have Steadfastly refused to do hitherto.
            Secara hukum pernyataan Christison tidak dapat diartikan sebagai pengakuan secara de facto kepada  Republik Indonesia yang mempunyai wewenang atas pulau Sumatera dan pulau Jawa, meskipun pengakuan tersebut hanya untuk tujuan praktisinya yaitu untuk memperlancar tugasnya dikedua pulau tersebut.
Pernyataan tersebut memberikan harapan bagi bangsa Indonesia, maka pemerintah RI dengan TKR membantu sekutu dalam melaksanakan tugasnya di Indonesia Namun kemudian rakyat Indonesia curiga karena kedatangan Inggris di Indonesia disertai Belanda dangan Alhed Militery Administrastin Civil Affairs Branch (AMACAB) yang menyamar seperti serdadu Gurkha dengan merubah warna kulitnya.  Pemolesan warna kulit ini diketahui antara lain dari jasad mereka yang terlempar di sungai Berantas ketika berkobar pertempuran Surabaya di bulan November Agar tidak diketahui para pejabat maupun tentara Republik, orang-orang Belanda menyamar sebagai anggota sekutu dengan menggunakan seragam sekutu dan berbahasa Inggris.
Bersama dengan tentara Inggris inilah tentara Belanda masuk dan berusaha menduduki pusat-pusat kota di Jawa dan Sumatera, kemudian masuk kedaerah pedalaman dengan alasan untuk menerima penyerahan tentara Jepang.  Perlawanan dari pemuda dan rakyat setempat kemudian berkembang menjadi pertempuran besar, seperti pertempuran di Semarang, Ambarawa, Magelang, Medan dan Surabaya. Situasi makin bertambah buruk setelah NICA mempersenjatai kembali KNIL yang baru lepas dari tahanan Jepang.
Diantara pertempuran-pertempuran daerah yang terjadi di wilayah RI, pertempuran di Surabaya merupakan pertempuran yang paling besar dalam sejarah perang kemerdekaan yang memakan banyak korban di kedua belah pihak dan juga menewaskan panglima sekutu Brigadir A.W.S Mallaby.  Penyebab pertempuran adalah karena tentara Inggris tidak semata-mata melaksanakan tugas RAPWI, tetapi juga mencoba menguasai kota Surabaya dan membiarkan berkibarnya kembali bendera Belanda.  Hal ini menimbulkan perlawanan sengit dari rakyat Indonesia meskipun dengan persenjataan yang sederhana.
Pertempuran di Surabaya manyadarkan Inggris bahwa perang kemerdekaan disokong oleh rakyat dan untuk merebut semua wilayah Republik diperlukan biaya dan perlengkapan yang besar.  Selain itu Partai Buruh di London mendorong kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah seperti halnya di India, oleh sebab itu Inggris mendesak pemerintah Belanda berupaya soal Indonesia diselesaikan dengan cara damai yaitu dengan jalan perundingan.  Sebagai tindak lanjutnya, pada pertengahan Oktober Inggris mengutus seorang diplomat bernama MF. Dening untuk membantu panglima sekutu di Indonesia di bidang politik dan untuk menjelaskan sikap Inggris kepada Indonesia bahwa Inggris tidak mengakui Republik, tetapi menganjurkan supaya masalah Belanda diselesaikan secara damai melalui perundingan.
Di Jakarta, Belanda semakin meningkatkan terornya , bahkan melakukan percobaan pembunuhan terhadap Perdana Menteri Sutan Syahrir pada tanggal 26 Desember 1945, demikian juga terhadap Amir Syarifuddin.  Dengan semakin gentingnya situasi di Jakarta dan terancamnya jiwa para pemimpin, maka pada tanggal 4 Januari 1946 ibukota pemerintah RI untuk sementara dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta.  Mengenai alasan pemindahan tersebut diungkapkan oleh wakil penerangan Ali Sastroamidjojo SH Pemindahan ini tidak  untuk merubah pendirian pemerintah terhadap luar negeri. Pemindahan sementara ini beralasan:
1)      Keadaan yang tidak aman terdapat di Jakarta.
2)   Untuk menyempurnakan organisasi dalam negeri, bahwa kota Jakarta pada masa ini makin tidak aman buat rakyat Indonesia umumnya dan buat pemimpin-pemimpin Negara khususnya.  

Selain Presiden dan wakil Presiden aparat-aparat pemerintah secara perlahan juga dipindahkan ke Yogyakarta.  Sebagai seorang Perdana Menteri dan juga merangkap menteri luar negeri.  Sutan Syahrir tetap tinggal di Jakarta untuk mengadakan hubungan atau kegiatan diplomasi untuk menghadapi Belanda. Dalam usaha menyelesaikan masalah Indonesia dan Belanda, pada 1 Februari 1946 seorang diplomat Inggris, Sir Archibald Clark Kerr bersama Sir Montque Stafford tiba di Jakarta pengganti Letjen Sir Philip Christison.
Perundingan Indonesia-Belanda dengan perantara Inggris dimulai 10 Februari 1946.  Diawal perundingan Belanda yang diwakili HJ. Van Mook menyampaikan pernyataan politik terdiri dari 6 pasal yang mengulangi pidato Ratu Belanda tanggal 7 Desember 1942.
Isi pokoknya:
1.      Indonesia akan dijadikan Negara persekmamuran berbentuk federasi yang memiliki pemerintahan sendiri di dalam lingkungan kerajaan Nederland.
2.      Masalah dalam negeri diurus oleh Indonesia, sedang urusan luar negeri diurus pemerintah Belanda.
3.      Sebelum dibentuknya persemakmuran akan dibentuk pemerintahan peralihan selama 10 tahun.
4.      Indonesia akan dimasukkan sebagai anggota PBB.
Pernyataan Belanda itu menimbulkan pergolakan dalam negeri dan menimbulkan tekanan pada kabinet Sutan Syahrir mengundurkan diri dari jabatannya sebagai perdana menteri.  Tetapi tanggal 12 Maret 1946 dengan dukungan Soekarno dan Hatta, Syahrir berhasil membentuk kabinet yang baru, kabinet kemudian menyusun usul balasan pemerintah RI, isinya antara lain :
1.      Republik Indonesia harus di akui sebagai Negara yang berdaulat penuh atas wilayah bekas Hindia Belanda.
2.      Pinjaman-pinjaman Belanda sebelum tanggal 8 Maret 1942 menjadi tanggungan pemerintah RI.
3.      Federasi Indonesia Belanda akan dilaksanakan dalam masa tertentu dan mengenai urusan luar negeri dan pertahanan diserahkan kepada suatu badan federasi yang terdiri atas orang-orang Indonesia dan Belanda.
4.      Tentara Belanda segera ditarik dari Indonesia dan jika perundingan tentara Republik Indonesia.
5.      Pemerintah Belanda harus membantu pemerintah Indonesia untuk dapat diterima sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.
6.      Selama perundingan berlangsung semua aksi militer harus dihentikan dan pihak Republik akan melakukan pengawasan terhadap pengungsian tawanan-tawanan Belanda dan inter niran lainnya.
Perundingan kedua dilaksanakan tanggal 14-24 April di Hooge Veluwe (Belanda).  Dalam perundingan ini delegasi Indonesia dipimpin oleh Suwardi, delegasi Belanda diketuai Schermerhorn, serta pihak Penengah Inggris. Perundingan ini mengalami kegagalan karena kedua belah pihak belum mencapai kata sepakat.  Belanda hanya mengakui kekuasaan de facto RI atas Jawa dan Madura, itupun masih dikurangi daerah-daerah yang telah diduduki sekutu, sedangkan Republik Indonesia menghendaki pengakuan kekuasaan de facto atas seluruh wilayah bekas Hindia Belanda.
Setelah Perundingan gagal Sutan Syahrir mencoba langkah diplomasi lain yang dikenal dengan “Diplomasi Beras”. Pada 12 April 1946 Sutan Syahrir menawarkan pengiriman 500.000 ton beras kepada pemerintah India, untuk menolong rakyat India yang sedang kekurangan bahan makanan.  Sebagai gantinya India akan mengirim bahan pakaian dan lain-lain keperluan rakyat Indonesia.  Diplomasi beras tersebut mempunyai arti politis untuk memperkuat kedudukan RI terhadap pengakuan negara-negara lain atas kedaulatan RI sama artinya dengan mempersulit Belanda untuk kembali menjajah Indonesia.
Belanda kembali menawarkan usul yang dikemukakan oleh Van Mook pada tanggal 2 Mei 1946 yang pada intinya untuk membentuk suatu negara federal kepada RI.  Indonesia tetap pada pendiriannya bahwa RI menginginkan pengakuan kemerdekaan seutuhnya. Sebelum penarikan tentara Inggris dari Indonesia, pemerintah Inggris kembali menyarankan untuk mengadakan penyelesaian politik masalah Indonesia-Belanda dengan mengutus diplomat Lord Killearn untuk menjadi penengah.  Sebelum perundingan dilaksanakan terlebih dahulu diadakan persetujuan gencatan senjata yang disetujui kedua belah pihak pada tanggal 1 Oktober 1946.
          Pada saat RI mempersiapkan perundingan, setelah persetujuan gencatan senjata, pihak Belanda justru mengirim “Divisi 7 Desember” ke Indonesia hingga mencapai 20.000 orang selain itu Belanda juga membentuk negara-negara baru (negara boneka). Perundingan terus berlangsung dan dilaksanakan secara berpindah-pindah. Perundingan awal dimulai tanggal 7 Oktober 1946 dilaksanakan di Jakarta dan tanggal 10 November 1946 diteruskan di Linggarjati, sebuah tempat di kaki gunung Cireme, 22 Km dari Cirebon.  Pada tanggal 12 November 1946 oleh masing-masing ketua delegasi yaitu Sutan Syahrir dari pihak Republik Indonesia dan Prof Schermerhorn sebagai ketua delegasi Belanda. (Yunani. 2004 : 17-24).

2.2       Reaksi Bangsa Indonesia Melihat Kedatangan Sekutu Pasca Kemerdekaan Indonesia Tahun 1945
2.2.1   Timbulnya Perlawanan Bangsa Indonesia
Perlawanan dari pemuda dan rakyat setempat kemudian berkembang menjadi pertempuran besar
yang dicurigai membunuh Jendral Mallaby.
Permintaan tersebut diikuti ultimatum dari Mayor Jendral Mansergh. Isi ultimatum tersebut yaitubahwa  Sekutu memerintahkan rakyat Surabaya menyerahkan senjatanya. Penyerahan paling lambat tanggal 9 November 1945 pukul 18.00 WIB. Apabila ultimatum tersebut tidak dilaksanakan, Kota Surabaya akan diserang dari darat, laut, dan udara. Gubernur Suryo, diberi wewenang oleh pemerintah pusat untuk menentukan kebijaksanaannya. Beliau bermusyawarah dengan pimpinan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan para pemimpin perjuangan rakyat di Surabaya. Hasil musyawarah tersebut adalah rakyat Surabaya menolak ultimatum dan siap melawan ancaman Sekutu. Tanggal 10 November 1945 pukul 06.00, tentara Sekutu menggempur Surabaya dari darat, laut maupun udara. Di bawah pimpinan Gubernur Suryo dan Sutomo (Bung Tomo) rakyat Surabaya tidak mau menyerahkan sejengkal tanah pun kepada tentara Sekutu. Dengan pekik Allahu Akbar, Bung Tomo membakar semangat rakyat. Dalam pertempuran yang berlangsung sampai awal Desember itu gugur beribu-ribu pejuang Indonesia. Pemerintah menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Hari Pahlawan untuk memperingati jasa para pahlawan. Perlawanan rakyat Surabaya mencerminkan tekad perjuangan seluruh rakyat Indonesia.
a.    Pertempuran Lima Hari di Semarang
Perjuangan masyarakat Jawa tengah untuk mempertahankan kemerdekaan dimulai segera setelah disiarkan berita tentang proklamasi kemerdekaan. Beberapa saat setelah proklamasi. Pertempuran ini terjadi pada tanggal 15 Oktober 1945. Kurang lebih 2000 pasukan Jepang berhadapan dengan TKR dan para pemuda. Peristiwa ini memakan banyak korban dari kedua belah pihak. Dr. Karyadi menjadi salah satu korban sehingga namanya diabadikan menjadi nama salah satu Rumah sakit di kota Semarang sampai sekarang. Untuk memperingati peristiwa tersebut maka pemerintah membangun sebuah tugu yang diberi nama Tugu Muda.
b.   Pertempuran Ambarawa
Pertempuran ini diawali dengan kedatangan tentara Inggris di bawah pimpinan Brigjen Bethel di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945 untuk membebaskan tentara Sekutu. Setelah itu menuju Magelang, karena Sekutu diboncengi oleh NICA dan membebaskan para tawanan Belanda secara sepihak maka terjadilah perlawanan dari TKR dan para pemuda. Pasukan Inggris akhirnya terdesak mundur ke Ambarawa. Dalam peristiwa tersebut Letkol Isdiman gugur sebagai kusuma bangsa. Kemudian Kolonel Sudirman terjun langsung dalam pertempuran tersebut dan pada tanggal 15 Desember 1945 tentara Indonesia berhasil memukul mundur Sekutu sampai Semarang. Karena jasanya maka pada tanggal 18 Desember 1945 Kolonel Sudirman diangkat menjadi Panglima Besar TKR dan berpangkat Jendral. Sampai sekarang setiap tanggal 15 Desember diperingati sebagai hari Infantri.
c.    Pertempuran Medan Area
Pada tanggal 9 Oktober 1945 pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda dan NICA di bawah pimpinan Brigjen T.E.D. Kelly mendarat di Medan. Pada tanggal 13 Oktober 1945 para pemuda yang tergabung dalam TKR terlibat bentrok dengan pasukan Belanda, sehingga hal ini menjalar ke seluruh kota Medan. Hal ini menjadi awal perjuangan bersenjata yang dikenal dengan Pertempuran Medan Area.
d.   Bandung Lautan Api
Kota Bandung dimasuki pasukan Inggris pada bulan Oktober 1945. Sekutu meminta hasil lucutan tentara Jepang oleh TKR diserahkan kepada Sekutu. Pada tanggal 21 November 1945 Sekutu mengultimatum agar kota Bandung dikosongkan. Hal ini tidak diindahkan oleh TRI dan rakyat. Perintah ultimatum tersebut diulang tanggal 23 Maret 1946. Pemerintah RI di Jakarta memerintahkan supaya TRI mengosongkan Bandung, tetapi pimpinan TRI di Yogyakarta mengintruksikan supaya Bandung tidak dikosongkan. Akhirnya dengan berat hati TRI mengosongkan kota Bandung. Sebelum keluar Bandung pada tanggal 23 Maret 1946 para pejuang RI menyerang markas Sekutu dan membumihanguskan Bandung bagian selatan. Untuk mengenang peristiwa tersebut Ismail Marzuki mengabadikannya dalam sebuah lagu yaitu Hallo-hallo bandung. (www. Wikipedia. com/Tugas Sekutu di Indonesia dan tanggapan bangsa Indonesia)




BAB III
PENUTUP
3.1            Kesimpulan
Setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, bukan berarti bangsa ini mampu mnjadi bangsa yang terbebas dari peperangan. Brbagai upaya dilakukan oleh para penjajah utuk merebut kembali bangsa ni. Namun, rakyat Indonesia tetap berjuang memepertahankan kesatuan negara Republik Indonesia dari tangan penjajah dengan segala kekuatan dan segala keterbatasan biaya perang. Peperangan dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, dukungan terhadap kemerdekaan bangsa ini begitu besar. Semua rakyat dengan semangatnya menjaga negeri ini dari para penjajah agar tidak dijajah kembali.
3.2   Saran
          Sebagai manusia yang mempunyai kelebihan dan kekurangan kami yakin para pembaca juga ingin lebih mengerti tentang perang kemerdekaan bangsa Indonesia melawan para penjajah, maka kami menyarankan para pembaca memperbanyak membaca dari sumber-sumber yang lain.





DAFTAR PUSTAKA
Hajati Chusnul, dkk: 1996. Peranan Masyarakat Jawa Tengah Dalam Perjuangan kemerdekaan tahun 1945-1949.Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, halaman 31.
http: //www.Wikipedia. com/Tugas Sekutu di Indonesia dan tanggapan bangsa  Indonesia. (diakses pada 22 Agustus 2014. Sumber internet).
http://www.Wikipedia.org/gambar pertempuran 10 November di Surabaya dan kolonel Sudirman. (diakses pada 22 Agustus 2014. Sumber internet).
Mawarti Djoened Poesponegoro,dkk: 1992. Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI. Jakarta: Balai Pustaka, halaman 165.
Yunani. 2004. Sejarah Nasional Indonesia V. Palembang : UNSRI.